Susi Ingin Subsidi Solar Bagi Nelayan Dicabut, Ini Penjelasannya

Jumat 25 Aug 2017


Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, sempat menyatakan akan meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, menghapus subsidi solar untuk nelayan. Wacana ini sempat menuai protes dari nelayan lantaran dirasa tak sesuai dengan kemampuan nelayan saat ini.

Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Sjarief Widjaja, mengatakan permintaan pencabutan subsidi solar tersebut bisa dilakukan setelah ketersediaan solar dipastikan bagi nelayan, khususnya yang berada di wilayah-wilayah terpencil, terluar dan terdepan Indonesia.

"Pada waktu itu ke Pertamina, Beliau menyampaikan, bahwa bagi nelayan, mereka sanggup membeli solar dengan harga mahal. Kenapa? Karena tidak ada solar. Di daerah-daerah terpencil, itu kan saking begitu tidak ada solarnya sehingga dia solar harga berapa pun dia sanggup membeli," katanya, saat wawancara khusus dengan detikFinance di kantornya, Jakarta, Kamis (24/8/2017).



 
Pasalnya, minimnya ketersediaan solar bagi nelayan justru membuat harga solar subsidi yang dibeli jauh lebih mahal dibanding yang tak disubsidi. Sehingga ketersediaan menjadi isu penting yang harus diselesaikan. Setelah pasokan aman, nelayan pun dirasa mampu membeli solar dengan harga non subsidi, menyusul hasil tangkapan yang kini melimpah di laut.

"Artinya, sebetulnya kuncinya bukan di harga, tapi ketersediaan. Jadi beliau (Menteri Kelautan dan Perikanan) minta supaya Pertamina mendahulukan ketersediaan dulu. Harga enggak ada masalah. Karena nelayan di daerah-daerah ujung itu biasa membeli dengan harga mahal. Daerah kita (nelayan) itu kan enggak ada yang daerah kota. Nelayan itu di ujung-ujung, di mana suplai solarnya sulit. Kadang ada, kadang enggak, cuaca buruk susah," jelas Sjarief.

"Jadi ketersediaan dulu, baru subsidinya enggak usah. Kalau sudah tersedia, baru subsidi bisa dipotong. Karena harganya dibandingkan dengan harga dia yang dulu. Dia bisa beli Solar sampai harga Rp 30 ribu per liter. Dengan non subsidi mungkin Rp 10 ribu-Rp 11 ribu," tukasnya. 



sumber : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3614342/susi-ingin-subsidi-solar-bagi-nelayan-dicabut-ini-penjelasannya

Ini Dia Temuan 9 Ladang Migas Baru di RI


Badan Geologi Kementerian ESDM telah merekomendasikan penetapan 9 wilayah kerja (WK/blok) migas baru pada 2016. Sebagian besar blok migas baru yang ditemukan berada di Indonesia Timur.

"Untuk 2016, Badan Geologi sudah mampu merekomendasikan 9 WK Migas. Fokus kita adalah ke Indonesia Timur, daerah yang masih frontier, misalnya Kalimantan Utara," kata Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rida Mulyana, dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (28/8/2017).

Sembilan rekomendasi blok migas baru tersebut tersebar di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Di Kalimantan ada South Bengara dan Sebatik. Kemudian di Sulawesi ada Tomini Bay V, Balantak, West Morowali, Tomori, Enrekang. Sedangkan di Papua ada Akimeugah dan Mamberamo.


Kegiatan pencarian cadangan migas dilakukan di wilayah-wilayah yang masih memiliki cekungan-cekungan sedimen dengan status kekurangan data.
"Penemuan rembesan minyak dan gas menunjukkan adanya potensi pada daerah tersebut," ucap Rida.

Diharapkan dengan penambahan data dan analisa dapat diusahakan penemuan cadangan baru pada daerah tersebut.

Sementara untuk 2017 ini, Badan Geologi menargetkan 9 lokasi rekomendasi WK Migas, yaitu di MNK Kutai, Buru, Obi-Bacan, Seram Barat, Bintuni (Maybrat), Biak-Numfor, Wamena, Aru-Tanimbar, dan Sahul.

Pada 2016, Badan Geologi juga merekomendasikan 16 wilayah prospek panas bumi, 13 wilayah prospek batu bara, dan 23 wilayah prospek mineral.

sumber:https://finance.detik.com/energi/d-3618264/ini-dia-temuan-9-ladang-migas-baru-di-ri?_ga=2.44446497.443435434.1503924444-1567363976.1503500993

BBM NONSUBSIDI, Harga Dexlite dan Solar Naik per 1 September

JAKARTA - Harga Dexlite dan Solar Nonsubsidi naik sebesar Rp 100-200 per liter mulai 1 September, menyusul mulai merangkak naiknya harga solar dalam Means of Platts Singapore (MOPS).
Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan MOPS Solar sudah naik cukup signifikan yakni dari US$45 per barel menjadi US$53 per barel.
Dengan demikian, perseroan menaikkan harga Dexlite sebesar Rp200 per liter dan Solar Nonsubsidi Rp100 per liter. Solar Nonsubsidi yang dimaksud bukanlah Pertamina Dex, melainkan Solar dengan harga nonsubsidi yang dijual di beberapa SPBU dekat lokasi tambang.
"Dexliter naik dari Rp6.450 per liter menjadi Rp6.650 per liter. Solar Nonsubsidi naik dari Rp6.250 per liter ke Rp6.350 per liter," kata di Gedung Parlemen, Kamis (1/9/2016).
Sementara itu, perseroan tidak mengubah harga Pertalite dan Pertamax Series. Hal tersebut karena MOPS bahan bakar jenis ini hanya naik tipis dari US$44-US$46 per barel ke US$51 per barel. "Masih untung meski kecil, biar saja (tidak naik) agar market share naik," jelasnya.
Pertalite saat ini dijual pada harga Rp6.900 per liter dan Pertamax RON 92 Rp7.450 per liter. Harga Pertalite dan Pertamax Series yang tetap ini juga bagian dari strategi perusahaan.
Pertamina juga sengaja menahan harga kedua bahan bakar jenis ini guna menyiapkan masyarakat agar siap memakai BBM Euro IV yang lebih baik dan bersih. Pasalnya, konversi ke Euro IV sudah tidak bisa dihindari. "Masih dibahas dengan pemerintah (kapan beralih ke Euro IV), tetapi antara 2019-2020 mulai bertahap," katanya.


sumber:http://industri.bisnis.com/read/20160902/44/580511/bbm-nonsubsidi-harga-dexlite-dan-solar-naik-per-1-september

Informasi harga keekonomian HSD Solar Industri PT.Pertamina (persero), periode 1 - 14 Agustus 2017

Berikut kami sampaikan informasi harga keekonomian HSD Solar Industri PT.Pertamina (persero), periode 1 - 14 Agustus 2017
  
MINYAK SOLAR / HSD (High Speed Diesel) 
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah I)        = Rp 7.800,-
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah II)       = Rp 7.800,-  
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah III)      = Rp 7.900,-  
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah IV)     = Rp 8.050,-
*) Harga tersebut diatas belum termasuk ppn, pph dan pbbkb



Keterangan :

Wilayah I    : Sumatera, Jawa, Bali, Madura
Wilayah II   : Kalimantan
Wilayah III  : Sulawesi, NTB
Wilayah IV : Maluku, NTT, Irian Jaya

Dapatkan penawaran solar industri dengan harga terbaik dari kami.
hubungi:  081347733327
email :     nanohsd@gmail.com

Harga keekonomian HSD Solar Industri PT.Pertamina (persero), periode 15 - 31 Juli 2017

Berikut kami sampaikan informasi harga keekonomian HSD Solar Industri PT.Pertamina (persero), periode 15 - 31 Juli 2017
  
MINYAK SOLAR / HSD (High Speed Diesel) 
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah I)        = Rp 8.000,-
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah II)       = Rp 8.000,-  
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah III)      = Rp 8.100,-  
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah IV)     = Rp 8.250,-
*) Harga tersebut diatas belum termasuk ppn, pph dan pbbkb



Keterangan :

Wilayah I    : Sumatera, Jawa, Bali, Madura
Wilayah II   : Kalimantan
Wilayah III  : Sulawesi, NTB
Wilayah IV : Maluku, NTT, Irian Jaya

Dapatkan penawaran solar industri dengan harga terbaik dari kami.
hubungi:  081347733327
email :     nanohsd@gmail.com

Harga Keekonomian Solar Industri PT.Pertamina (persero), Periode: 1 - 15 Juli 2017



Berikut kami sampaikan informasi harga keekonomian HSD Solar Industri PT.Pertamina (persero), periode 1 - 15 Juli 2017
 

MINYAK SOLAR / HSD (High Speed Diesel)
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah I)        = Rp 7.800,-

HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah II)       = Rp 7.800,-  
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah III)      = Rp 7.900,-  
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah IV)     = Rp 8.050,-
*) Harga tersebut diatas belum termasuk ppn, pph dan pbbkb



Keterangan :

Wilayah I    : Sumatera, Jawa, Bali, Madura
Wilayah II   : Kalimantan
Wilayah III  : Sulawesi, NTB
Wilayah IV : Maluku, NTT, Irian Jaya

Dapatkan penawaran solar industri dengan harga terbaik dari kami.
hubungi:  081347733327
email :     nanohsd@gmail.com

Harga Keekonomian Solar Industri PT.Pertamina (persero), Periode: 15 - 30 Juni 2017



Berikut kami sampaikan informasi harga keekonomian HSD Solar Industri PT.Pertamina (persero), periode 15 - 30 Juni 2017
 

MINYAK SOLAR / HSD (High Speed Diesel)
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah I)        = Rp 8.000,-

HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah II)       = Rp 8.000,-  
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah III)      = Rp 8.100,-  
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah IV)     = Rp 8.250,-
*) Harga tersebut diatas belum termasuk ppn, pph dan pbbkb



Keterangan :

Wilayah I    : Sumatera, Jawa, Bali, Madura
Wilayah II   : Kalimantan
Wilayah III  : Sulawesi, NTB
Wilayah IV : Maluku, NTT, Irian Jaya

Dapatkan penawaran solar industri dengan harga terbaik dari kami.
hubungi:  081347733327
email :     nanohsd@gmail.com

Harga Keekonomian Solar Industri PT.Pertamina (persero), Periode: 1 - 14 Juni 2017

Berikut kami sampaikan informasi harga keekonomian HSD Solar Industri PT.Pertamina (persero), periode 1 - 14 Juni 2017
 

MINYAK SOLAR / HSD (High Speed Diesel)
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah I)        = Rp 8.200,-

HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah II)       = Rp 8.200,-  
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah III)      = Rp 8.300,-  
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah IV)     = Rp 8.450,-
*) Harga tersebut diatas belum termasuk ppn, pph dan pbbkb



Keterangan :

Wilayah I    : Sumatera, Jawa, Bali, Madura
Wilayah II   : Kalimantan
Wilayah III  : Sulawesi, NTB
Wilayah IV : Maluku, NTT, Irian Jaya

Dapatkan penawaran solar industri dengan harga terbaik dari kami.
hubungi:  081347733327
email :     nanohsd@gmail.com