Harga Keekonomian BBM Solar Industri PT.Pertamina, Periode 1-14 September 2015

Berikut kami sampaikan informasi harga keekonomian HSD Solar Industri PT.Pertamina, periode (1-14 September 2015)

MINYAK SOLAR / HSD (High Speed Diesel)

HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah I)        = Rp8.200,-
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah II)       = Rp8.200,-
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah III)      = Rp8.300,-
HARGA DASAR HSD Solar Industri (wilayah IV)      = Rp8.450,-

*) Harga tersebut belum termasuk ppn, pph dan pbbkb

Dapatkan Penawaran Solar Industri dengan HARGA TERBAIK dari kami,
Hubungi: Sdr Nano
Telp       :081347733327
Email    : nanohsd@gmail.com

  

Harga Keekonomian Solar Industri Pertamina pertanggal 15 Agustus 2015

Harga dasar belum termasuk pajak:

Wilayah I     : HSD Rp 8.700,-
Wilayah II    : HSD Rp 8.700,-
Wilayah III   : HSD Rp 8.800,-
Wilayah IV   : HSD Rp 8.950,-

Harga khusus HSD spek migas:
081347733327

Nelayan Minta KKP Revisi Pembelian Solar Nonsubsidi

solar industri
Nelayan Kota Pekalongan, Jawa Tengah, meminta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KPP) merivisi peraturan terhadap kewajiban nelayan membeli solar nonsubsidi sebagai perbekalan mencari ikan di laut dan larangan penggunaan cantrang. Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kota Pekalongan, Rozak mengatakan Peraturan Presiden Nomor 191 tentang Larangan BBM bersubsidi bagi kapal di atas 30 GT dan Peraturan Menteri Kelautan Nomor 1 tentang Larangan Pengunaan Cantrang akan menyulitkan nelayan. "Kebijakan tersebut jelas mematikan nelayan. Oleh karena itu, kami mohon pada pemerintah meninjau kembali kebijakan dua peraturan itu," katanya, Jumat (3/4).
Menurut dia, jika para nelayan harus dipaksa menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk industri jelas akan membebani biaya operasional nelayan karena mereka setiap kali melaut membutuhkan sekitar 30--40 grostone solar. "Apalagi di Kota Pekalongan sistemnya bukan gajian harian atau bulanan yang diterima nelayan berdasar bagi hasil. Jelas biaya operasional membengkak akan membuat penghasilan nelayan berkurang," katanya.
Pada kesempatan itu, Rozak minta kepada pemerintah dapat merealisasikan asuransi untuk nelayan karena kontribusi mereka terhadap pendapatan negara sudah relatif cukup tinggi. Hal itu, kata dia, bisa dilihat dari setiap lelang nelayan selalu menerima potongan dari uang lelang untuk disetorkan sebagai pajak.
"Kami juga mengeluhkan masalah alur sungai di Pelabuhan Kota Pekalongan. Ha ini menyebabkan kapal yang datang harus ditarik sehingga kami mohon ada dana setiap tahun yang dialokasikan untuk pengerukan muara sungai agar alur lancar," katanya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perkapalan Indonesia Kota Pekalongan, Mofid, menambahkan permintaan para nelayan ini diharapkan didengar oleh pemerintah agar mereka dapat mencukupi kebutuhan keluarganya.
"Sekarang kami tanya, apa bedanya truk di darat dengan kapal di laut. Akan tetapi kenapa ada perbedaan perlakuan oleh pemerintah terhadap para nelayan," katanya.



sumber:http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/04/03/nm7ta4-nelayan-minta-kkp-revisi-pembelian-solar-nonsubsidi

Terobosan Pertamina: Solar Campur Air Jadi BBM Sepeda Motor

Indonesia telah menjadi negara importir bahan bakar minyak fosil. PT Pertamina tengah mengembangkan terobosan energi terbarukan, yaitu bahan bakar solar dicampur dengan air.  "BBM itu namanya Solar Emulsi, yaitu solar dengan campuran air. Kunci pencampurannya dengan surfactant," kata Vice President Research and Development PT Pertamina, Eko Laksono, di Jakarta, Senin, 18 Mei 2015.

Perbedaan berat jenis, ikatan kimia, struktur dan komposisi kimiawi solar dan air memerlukan agen pemersatu (surfactant) agar mereka bisa berikatan baik dan tetap memiliki kandungan energi. Ibaratnya, menyatukan minyak dengan air.




Ketika ditemui di Kantor Pusat Pertamina, di bilangan Gambir, Jakarta Pusat, ia menjelaskan, melalui proses pencampuran kesemua bahan itu maka akan dihasilkan jenis bahan bakar baru yang lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan solar konvensional.

"Kelebihannya jelaga tidak hitam. Jika dibandingkan dengan Solar48, opasitasnya di atas 15. Kalau Solar Emulsi ini kurang dari 10, emisinya rendah," ujar Laksono.  Saat ini terdapat dua produk utama dari hasil pengolahan Solar Emulsi tersebut yaitu, mikro dan makro, tuturnya.

Untuk Solar Emulsi mikro saat ini sudah memasuki tahap pengujian di lembaga afiliasi penelitian dan industri ITB dengan digunakan sebagai bahan bakar pada kendaraan bermotor hingga mencapai jarak 10 ribu km. "Untuk yang Solar Emulsi jenis makro saat ini di negara-negara maju sudah banyak digunakan sebagai bahan bakar," katanya.

Dia juga menyatakan, sasaran pasar Solar Emulsi ialah untuk sektor transportasi umum dan nelayan. "Kalau diuji pada hi-speed engine saja sudah lulus, sudah pasti untuk kelas med-low engine, di antaranya angkutan umum dan mesin tempel nelayan juga bisa," kata dia. Dia tidak mengungkap kisaran calon harga bagi Solar Emulsi itu, juga persyaratan spesifikasi mesin yang diperlukan agar Solar Emulsi itu sukses dipakai mesin.

Menurut Laksono, energi merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. PT Pertamina juga memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan cadangan energi terbarukan sebagai sumber daya masa depan. "Selain mengembangkan, nanti Pertamina juga akan memproduksi dan menjual produk energi baru dan terbarukan," katanya.




sumber: http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/05/18/090667208/Terobosan-Pertamina-Solar-Campur-Air-Jadi-BBM-Sepeda-Motor

BBM solar campur air sudah diuji coba untuk 10.000 km


Bahan bakar minyak (BBM) yang tengah dikembangkan PT Pertamina yakni solar dicampur air, diklaim tak hanya aman tapi juga bagus untuk membersihkan mesin kendaraan bermotor. Pertamina menyebut sudah melakukan uji coba untuk eksperimennya kali ini.
Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan tahap awal uji coba untuk solar campur air dilakukan pada mesin berkecepatan sedang seperti genset. Setelah berhasil, bahan bakar tersebut diujicoba pada kendaraan mesin diesel milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
"Kemudian uji jalan menggunakan mesin ITB sejauh 10.000 km dan hasilnya bagus ketimbang dari solar biasa. karena solar biasa itu Cetane Numbernya 48, kalau dari solar campur air ini capai 65," ujar dia kepada merdeka.com di Jakarta, Jumat (22/5).
Dari hasil uji coba itu, emisi yang dikeluarkan dari BBM solar campur air ini sangat rendah sehingga cukup ramah terhadap lingkungan. Opasitas solar campur air di bawah 10 persen. Jauh lebih bagus ketimbang biodiesel yang mencapai 15 persen.
"Saat ini terdapat dua produk utama dari hasil pengolahan Solar Emulsi tersebut yaitu, mikro dan makro," kata dia.
Berbeda dari BBM solar campur air, untuk BBM dari bahan baku lumut hingga saat ini belum dilakukan uji coba. Untuk melakukan uji coba, BBM jenis ini harus diperbanyak.
"Kita kan baru mencoba untuk sample saja. Kalau bagus dari hasil uji baru kita bisa produksi lebih banyak. Produksinya kan juga harus gunakan lahan kering untuk budidaya," kata Wianda.
Menurut Wianda, kedua bahan bakar tersebut memang diproyeksikan untuk bahan bakar kendaraan bermotor.
"Kedua bahan bakar minyak ini diproyeksikan untuk alternatif bahan bakar kendaraan bermotor," katanya.

[noe]
sumber:http://www.merdeka.com/uang/bbm-solar-campur-air-sudah-diuji-coba-untuk-10000-km.html

DPR Minta Subsidi Solar Dinaikkan

Pembatalan kenaikan BBM cermin buruk

Kegalauan PT Pertamina yang membatalkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM), mencerminkan buruknya koordinasi kebijakan di pemerintahan. Meskipun BBM yang akan dinaikan adalah bahan bakar khusus (BBK) atau non subsidi yang dibawah kendali pemerintah. 

Anggota Komisi VI, DPR RI, Bambang Haryo S, Sabtu 16 Mei 2015 mengatakan, kerugian yang terjadi di PT Pertamina saat ini adalah akibat inefisiensi yang dilakukan dalam menjalankan kegiatan usahanya. Hal tersebut jangan dibebankan kepada masyarakat.

"Harga BBM yang semula akan naik, tiba-tiba dibatalkan, terlihat sekali bahwa pemerintah secara politik sangat buruk dalam melakukan koordinasi. Seolah olah didalam Pemerintahan ada matahari kembar,  yang satu pro rakyat, sedangkan yang lainnya menindas rakyat," ujarnya di Jakarta.

Untuk melindungi industri dan bisnis transportasi nasional, dia pun meminta, pemerintah meningkatkan subsidi solar yang diberikan. Sehingga, jika ada kenaikan harga minyak, dampak lanjutannya tidak dirasakan masyarakat. 

Sebagai informasi, pemerintah menerapkan skema subsidi tetap untuk solar Rp1.000 per liter. Apabila ada kenaikan harga minyak dunia, secara otomatis harga solar yang harus dibeli mengikuti kenaikan tersebut. 

Naiknya harga solar berdampak besar memicu kenaikan biaya produksi bagi industri, dan biaya operasional transportasi massal. Hal tersebut secara otomatis akan meningkatkan harga jual produk dan tarif transportasi. 

"Beban masyarakat akan semakin berat, sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat sebagai konsumen industri," katanya.

Apabila subsidi Solar bisa ditambah, dia meyakini, daya beli masyarakat dapat meningkat karena terjangkaunya produk dalam negeri. Kemudian masyarakat pengguna transportasi masal akan meningkat karena tarif transportasi murah.





sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/626534-dpr-minta-subsidi-solar-dinaikkan

Tips Merawat Mesin Diesel Alat Berat

Setiap perusahaan yang melakukan bisnis jual alat berat menawarkan servis purna jual. Servis purna jual diberikan untuk memastikan perawatan dan keawetan dari mesin. Namun selain bergantung pada servis purna jual, Anda sangat disarankan melakukan perawatan sendiri terutama bagi Anda yang memiliki mesin diesel.

Cara Merawat Mesin Diesel Alat Berat

Mesin diesel memang tangguh dan teruji untuk medan berat, namun cara pengunaan dan cara perawatan yang salah dapat mengurangi umurnya. Tapi perawatannya kan mahal? Mahal mana, mengganti mesin baru atau melakukan pewaratan rutin? Berikut ini beberapa perawatan mesin diesel alat berat untuk menjaga performanya:

Memanaskan Mesin

mesin alat berat 

Sebelum melakukan aktifitas, pastikan Anda memanaskan mesin. Hal ini memang terlihat sangat sederhana dan tidak diperhatikan oleh orang, namun dengan melakukannya kerja mesin akan lebih optimal. Beneran? Pada saat pemanasan, mesin dapat mencapai suhu kerja dan memastikan komponen mesin memang sudah siap berkerja.

Gunakan Bahan Bakar Solar yang Berkualitas

Gunakan bahan bakar solar dengan kadar sulfur yang rendah, terutama untuk mesin diesel alat berat yang menggunakan teknologi Common Rail Direct Injection. Penggunaan solar dengan kadar sulfur yang tinggi dapat menyebabkan saluran Valve Common Rail tersumbat sehingga mesin akan mulai tersendat-sendat atau susah dihidupkan.

Jangan Mematikan Mesin Mendadak

Tunggu 3-5 menit untuk mematikan mesin. Hal ini bertujuan untuk memastikan radiator akan lebih awet. Mesin yang sering dimatikan secara mendadak atau cepat, dapat mempercepat kerusakan radiator.

Ganti Filter Solar Secara Rutin

Filter berfungsi untuk meminimalisir partikel asing yang masuk ke dalam mesin. Endapan partikel asing di mesin dapat mengurangi fungsi alat berat dan membuat asap menjadi hitam. Untuk memastikan filter bisa berfungsi dengan baik, ganti filter yang sudah kotor dengan yang baru.

Ganti Filter Udara

Saringan udara harus bersih dan diganti secara rutin. Kenapa perlu? Jika dibiarkan, kotoran dapat masuk ke ruang pembakaran dan mempercepat terjadinya aus. Jika komponen pembakaran sudah aus, penyakit ini akan menjalar ke bagian lain.

Jangan Biarkan Tangki Bahan Bakar Kosong

Pastikan, tangki bahan bakar alat berat Anda tidak pernah kosong. Saat  bahan bakar di dalam tangka sudah sisa 1/3, sebaiknya langsung melakukan isi ulang. Jika bahan bakar sampai kosong melompong, mesin diesel bisa lebih cepat rusak.

Semoga artikel perawatan mesin diesel alat berat ini membantu

Sumber: http://artikelinformasi.com/merawat-mesin-diesel-alat-berat/

Ini Bedanya BBM Subsidi dan Non-Subsidi



Membahas soal kenaikan harga BBM pasti nggak ada habisnya bro-sis, setelah harga BBM subsidi alias premium naik tanggal 18 November 2014 kemarin sebesar Rp 2.000, kericuhan terjadi dimana-mana bahkan bikin warga lain merasa resah.

Seperti biasa nih bro-sis, momen sebelum naiknya harga premium, para pemilik kendaraan bermotor bahkan rela bermalam demi mengisi tangki bahan bakarnya hingga penuh dengan harapan detik-detik terakhir bisa merasakan harga premium sebelum naik.

Tapi suka nggak suka nih, sebenarnya kendaraan bermotor keluaran terbaru sebenarnya dibuat untuk mengonsumsi bahan bakar non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Plus. Tapi sebelum bro-sis buru-buru mengambil keputusan buat menggunakan BBM subsidi atau non subsidi, yuk pahami lebih jauh perbedaannya... :baru

1. Premium



Bahan bakar Premium punya warna kekuningan yang jernih. Bahan bakar ini merupakan BBM untuk kendaraan bermotor yang paling populer di Indonesia sebab harganya yang paling murah di antara bahan bakar lainnya. Premium merupakan BBM dengan oktan atau Research Octane Number (RON) terendah di antara BBM untuk kendaraan bermotor lainnya, yakni hanya 88. Biasanya digunakan untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin bensin, seperti mobil, sepeda motor, motor tempel, dan lain-lain. Namun sayang, BBM jenis ini punya kelemahan yang menyebabkan mesin mengalami knocking atau paling sering adalah mesin timbul gejala 'ngelitik'.. :horor

2. Pertamax



Bahan bakar pertamax merupakan produk BBM dari pengolahan minyak bumi yang dihasilkan dengan penambahan zat aditif dalam proses pengolahannya di kilang minyak. Pertamax pertama kali diluncurkan pada tahun 1999 sebagai pengganti Premix 98 karena unsur MTBE yang berbahaya bagi lingkungan. Pertamax direkomendasikan untuk kendaraan yang diproduksi setelah era 90-an, soalnya punya nilai oktan 92. Meski harga jual pertamax lebih mahal ketimbang premium, oktan atau Research Octane Number (RON) yang lebih tinggi dari premium. Pertamax . Hasilnya, tenaga mesin yang menggunakan pertamax lebih maksimal karena BBM digunakan secara optimal. :baru

3. Pertamax Plus



BBM dengan oktan lebih tinggi dari pertamax, Pertamax plus merupakan bahan bakar yang memenuhi standar performa International World Wide Fuel Charter (IWWFC). Pertamax plus adalah bahan bakar untuk kendaraan yang memiliki rasio kompresi minimal 10,5, serta menggunakan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI), Variable Valve Timing Intelligent (VVTI), (VTI), Turbochargers, dan catalytic converters. BBM ini punya keunggulan, bebas timbal dan punya nilai oktan 95. Oktan atau Research Octane Number (RON) yang lebih tinggi ini bisa menerima tekanan pada mesin berkompresi tinggi sehingga dapat bekerja dengan optimal pada gerakan piston. Selain itu, bisa membersihkan timbunan deposit pada fuel injector, inlet valve, dan ruang bakar yang dapat menurunkan performa mesin kendaraan. BBM ini ditujukan untuk kendaraan yang berteknologi tinggi dan ramah lingkungan. :baru 





sumber::https://www.lintas.me/otomotif/other/editor/yuk-pahami-beda-bbm-subsidi-dan-non-subsidi